خرید vpn خرید kerio
 
  • Pemerintah Kabupaten Toli Toli
  • Kantor Bappeda
  • KANTOR BUPATI
  • KANTOR BUPATI
  • Taxi Laut

BUPATI DAN WAKIL BUPATI
KABUPATEN TOLITOLI
PERIODE TAHUN 2010-2015

bupati
BUPATI TOLITOLI

Moh.Saleh Bantilan,
SH,MH
wakil bupati
  WABUP TOLITOLI

Amran Hi. Yahya,
SH
 
 
Cuaca
Selayang Pandang
Kondisi Pembangunan
Transportasi
Kalender Daerah
21 April 2015
SunMonTueWedThuFriSat
2930311234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293012
2345678

Sejarah Kabupaten Tolitoli

Daerah Kabupaten Tolitoli mempunyai sejarah yang panjang, yang dimulai pada abad 13. Semenjak zaman pra kemerdekaan sejalan dengan masuknya agama islam yang dibawa oleh para mubaligh dari kesultanan Ternate, Raja Tolitoli telah dilantik dan dinobatkan di Ternate .

Pada tahun 1770, telah dilantik Sultan Djanggu Syarafel Alamsyah di Ternate, yang berangkat bersama dengan puteranya Sultan Mirfaka Djamalul Alamsyah didampingi Raja Muda Imbaisug Managunu Datuamas. Dalam perjalanan kembali dari Ternate, Raja Imbaisug wafat diperjalanan di sekitar Tanjung Dako, Kesultanan Tolitoli diberikan oleh Sultan Djanggu Syarafel Alamsyah yang berkedudukan di Tuweley Tolitoli. Setelah Sultan Djanggu Syarafel Alamsyah meninggal, maka kesultanan di gantikan oleh puteranya yang sulung yaitu Sultan Mirfaka Djamalul Alamsyah yang memerintahkan di wilayah Tolitoli bagian Selatan berkedudukan di Talau/ Basi. Bagian Tolitoli diserahan kepada puteranya yang kedua yaitu Muhidin, tetapi tidak bergelar sultan melainkan bergelar raja yang diberi julukan Tau Dei Beanna.

Sesudah Raja Muhiddin wafat, kekuasaannya digantikan oleh Mohammad Yusuf Syaiful Muluk Mudjidin yang bergelar Malatuang yang oleh rakyat diberi julukan Tau Dei Buntuna. Raja ini memerintah antara tahun 1781 sampai 1812, dengan demikian sebelum penjajah Belanda masuk ke daerah ini kerajaan Tolitoli sudah ada dan diperintah oleh seorang raja yang disebut Gaukan. Ketika Belanda masuk di daerah ini pada tahun 1825 kerajaan Tolitoli dipimpin oleh Raja Safiuddin Bantilan. Pada taanggal 5 Juli 1858, raja menandataangani Lange Kontrak (Kontrak Panjang) dengan Belanda yang diwakili oleh Dirk Francois. Setelah Raja Safiuddin Bantilan wafat, digantikan oleh anaknya Raja H. Abd. Hamid Bantilan dimana pada masa itu telah ditandatangani persetujuan bersama batas kerajaan Tolitoli dengan Raja Banawa Lamakagili Tomedoda pada tahun 1898. Setelah Raja Abd. Hamid Bantilan wafat maka digantikan oleh adiknya Raja H. Moh. Ismail Bantilan (Tau Dei Babo Kasod), yang memerintahkan pada tahun 1908-1918, kemudian digantikan oleh anaknya H. Moh. Ali Bantilan.

Pada tahun 1917, Hos Cokroaminoto mengirim utusan ke Tolitoli bernama Sastro Kardono yang membentuk Syarikat Islam, dimana ketika H. Moh Ali Bantilan dilantik pada tahun 1918 sekaligus mengukuhkan beliau sebagai Presiden Syarikat Islam. Dalam perkembangannya kerajaan Tolitoli menjadi Order Afdeling yaitu Tolitoli masuk dalam Afdeling Donggala. Saat itu Tolitoli ditempatkan oleh pejabat Belanda yang disebut Controleur.

Dalam masa ini terjadilah pemberontakan rakyat dibawa pimpinan Imam Haji Hayun di Salumpaga tanggal 5 Juni 1919. Selanjutnya pemerintah dipimpin oleh H. Moh. Saleh Bantilan yang menduduki pemerintahan periode satu pada tahun 1920 – 1922. Kemudian digantikan oleh Muhammad Syarif Bin Un Bantilan yang memerintah pada tahun 1923- 1928, merupakan Raja yang menata Wilayah Panasakan termsuk membuat Lapangan Upacara Haji Hayun. Di masa pemerintahan Raja H. Moh. Saleh Bantilan periode ke dua dan dibantu oleh pelaksanan harian Matata Daeng Masese (Mantan Bertuur Asisten di Kolonodale) tahun 1942 – 1947, dimasa itu pula tentara Jepang masuk daerah Tolitoli pada tanggal 30 Mei 1942 yang kemudian membentuk pemerintahan sipil yang dipimpin oleh seorang Bunaken Kanrikan. Raja H. Moh. Saleh Bantilan bersama 19 orang tokoh masyarakat sempat dipenjarakan di Manado oleh tentara Jepang hingga tahun 1944.

Pada tanggal 18 Juli 1945 Bebelan dan Tantong Mandayuni bersama Lanoni dan kawan-kawan melakukan pemberontakan yang dikenal dengan peristiwa Malomba, yang menyebabkan terbunuhnya pejabat pemerintah Jepang yaitu Imaki Ken Kanrikan. Pemerintah di wilayah Tolitoli berstatus sebagai daerah swapraja, dimana setelah pengakuan kedaulatan Republik Indonesia dan berlakunya Konstitusi Republik Indonesia Serikat, pemerintahan di wilayah Tolitoli dipegang oleh pejabat yang disebut Kepala Pemerintahan Negeri (KPN). Secara berturut-turut yang menjabat sebagai Kepala Pemerinthan Negeri adalah A.R. Nento, Daeng Maraja Lamakarate, Djafar Lapasere, Mohammad Kasim Razak dan Andi Moh. Tahir. Selanjutnya KPN dijabat oleh Andi Musa, Andi Moh. Ali, A.M. Jotolembah dan Malaga, BA. Sedangkan pemerintahan swapraja pada tanggal 21 Desember 1957 telah dikukuhkan Moh. Yahya Bantilan untuk mengkoordinir keswaprajaan di Tolitoli. Setahun kemudian secara resmi daerah swapraja dihapuskan dan berstatus menjadi kewedanaan yang termasuk dalam wilayah Kabupaten Donggala.

Atas perjuangan dari tokoh-tokoh masyarakat Buol dan masyarakat Tolitoli maka dibentuk Kabupaten Daerah Tingkat II Buol Tolitoli, sesuai Undang-undang Nomor tahun 1959 tentang pembentukan Daerah Tingkat II di Sulawesi. Kabupaten Daerah Tingkat II Kabupaten Buol Tolitoli merupakan gabungan dari 2 daerah bekas swapraja, yakni swapraja Buol mulanya bagian dari wilayah Kabupaten Gorontalo. Swapraja Tolitoli yang semula merupakan bagian dari Kabupaten Donggala. Perintis berdirinya Kabupaten Daerah Tingkat II Buol Tolitoli tersebut terdiri dari Moh. Jahja Bantilan, Usman Binol, Saleh Alatas, Morel Metahang, D.S. Butudoka, Hi. Ibrahim, Usman Laindjong, Hi. Moh. Arsyad, Bombo Salakea, H.G. Pua, T. Kawan Daud, Nuryadi, Said Raukang, Hi. Mochsen Abd. Rahim, Hi. Salim Hi. Mallu, A. Datuamas, Andi Moh. Tahir, Mohtar Batalipu, Hi. Hamid Hi. Bedda, M.HI. Suhong, M.A. Turungku, J.A. Lamaka, M.J Rotikan, Hi.M. Datuiding, H. Pamentar, Ali Yanis dan Bathin.

Selain itu, yang telah turut membantu berdirinya Kabupaten Daerah Tingkat II Buol Tolitoli adalah Hi. R.M. Pusadan, H. Bashar Marhum, Hi. Moh. Mahmuda, Hasan Tawil, Bani Dora, Nabi Dawaradji, Hi. Hamzah, Husain Ain, M.Laterey, Ismail Maliki, Hamid Tarakuku, A.A Karim, Hi. K. Pusadan, M.R Amiruddin, L.W Pontoh, Hadir Hi. Ta’a, Panhus Marhum, A.A Abubakar, Hi. Abd. Gafur, B.A Baculu, Umar Riouh, Abdullah Mangkona, Poli Korompot, dan S.A Karim.

Radjawali Mohammad Pusadan diangkat sebagai Bupati Kepala Daerah Tingkat II Buol Tolitoli pertama yang dilantik tanggal 16 Juli 1960. Selajutnya secara berturut-turut Bupati Kepala Daerah Tingkat II Buol Tolitoli dijabat oleh H. Mohammad Kasim Razak, Eddy Soeroso, M. Sulaeman, Dede Hatta Permana dan H. Gumyadi. Setelah Kabupaten Daerah Tingkat II Buol Tolitoli ini dimekarkan, daeraah immi terbagi menjadi dua kabupaten, masing-masing Kabupaten Buol dan Kabupaten Tolitoli. Pemekaran daerah ini membawa implikasi dalam berbagai aspek yang memerlukan penyesuaian perubahan nm daerah yang telah ditetapkan dalam Undang-undang Nomor 51 Tahun 1999 dan Peraturan Daerah Nomor 9 Tahun 2000.

Lambang Daerah Kabupten Tolitoli ditetapkan dengan Peraturan Daerah Nomor 24 Tahun 2001 dan hari ulang tahun daerah ditetapkan dengan Peraturan Daerah Nomor 2 Tahun 2006. Pada tanggal 11 Desember 1999 telah dilantik sebagai Bupati Tolitoli yang pertama yaitu Drs. H. Mohammad Ma’ruf Bantilan, MM. Kemudian berdasarkan kajian dari aspek sosio kultural, aspek historis dan aspek yuridis serta berdasarkan rekomendasi hasil seminar yang dihadiri oleh Prof. Dr. Abu Hamid, MA yaitu ahli sejarah dari Universitas Hasanuddin dan Dr. Zainuddin Bolong, MA seorangg ahli sosiologi dari Universitas Tadulako Palu, dengan Peraturan Daerah ditetapkan berdirinya Daerah Kabupaten Tolitoli tanggal 11 Desember 1960. Dimana tanggal dan bulan yang sama dengan pelantiksan Bupati Tolitoli yang Pertama, sedangkan tahun diambil dari tahun pelantikan Bupati Kepala Daerah Tingkat II Buol Tolitoli yang pertama. Penetapan ini adalah untuk memadukan antara penghargaan yang tinggi terhadap histtoris dan jasa-jasa perintis serta pendukung terbentuknya Kabupaten Daerah Tinngkat II Buol Tolitoli yang diperjuangkan para sesepuh daerah. Merujuk fakta yuridis berdirinya Kabupaten Tolitoli, sehingga tanggal 11 Desember setiap tahunnya diperingati sebagai ylang tahun daerah Kabupaten Tolitoli.


Google Search
Topik Pembangunan
Artikel Pembangunan
Rabu, 1 April 2015
WORKSHOP PENELAHAAN RKA DAK TAMBAHAN PENDUKUNG
WORKSHOP PENELAHAAN RKA DAK TAMBAHAN PENDUKUNG PROGRAM PRIORITAS KABINET KERJA (P3K2) BIDANG PERTANIAN TA. 2015 Pada Tanggal 18-20 Maret 2015 telah
Jumat, 20 Maret 2015
Laporan Hasil Musrenbang Kab.Tolitoli 2016
1. Hasil Pemaparan SKPD dan penyampaian Pokok-pokok pikiran dari DPRD Provinsi Sulawesi Tengah dan DPRD Kabupaten Tolitoli, Arahan dari Kepala Bappeda Provinsi
Kamis, 10 Juli 2014
PENGOPERASIAN WEBSITE PEMERINTAH KABUPATEN TOLITOLI
Sesuai dengan Inpres Nomor 3 Tahun 2003 Tentang Kebijakan dan Strategi Nasional Pengembangan E-Government yang menitik beratkan pada pemanfaatan Teknologi
Polling

Bagaimana komentar anda tentang pembangunan Kabupaten Tolitoli

Sangat baik
Baik
Cukup
Kurang
Buruk

Link
Pengunjung